Ringkasann Kilat:
• Finalis SUCI 6 datang dari berbagai daerah dan latar unik.
• Setiap komika punya gaya khas yang bikin mereka menonjol.
• Musim ini penuh kejutan, dari komedi absurd sampai yang satir.
Disclamer: This overview was created with AI support.
Ajang Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) Season 6 tahun 2016 menjadi salah satu musim yang penuh warna, kejutan, dan talenta dari berbagai penjuru Nusantara. Disiarkan oleh Kompas TV, kompetisi ini menghadirkan 16 komika dengan gaya khas masing-masing. Dari yang blak-blakan, puitis, hingga yang mengangkat realita sosial dengan jenaka, semuanya bersaing merebut tawa dan simpati juri. SUCI 6 juga menjadi saksi munculnya bintang baru di dunia komedi Tanah Air, yang tak hanya lucu tapi juga membawa identitas kuat dari daerah asal mereka.
Berikut adalah daftar lengkap 16 finalis SUCI 6, diurutkan dari sang juara hingga peserta yang tereliminasi paling awal. Tiap komika membawa ciri khas, cerita, dan perjuangan yang layak dikenang:
Indra Jegel (Medan) – Juara 1.

Komika Batak ini dikenal dengan logat Medan yang kental dan pantun jenaka di awal penampilannya. Gayanya yang santai dan cerita keseharian orang Medan sukses mengocok perut dan membawanya menjadi juara. Selain itu, Jegel dikenal punya persona yang dekat dengan penonton, membuatnya terlihat natural dan menyenangkan di atas panggung. Keberhasilannya menginspirasi banyak komika dari luar Pulau Jawa.
Ardit Erwandha (Samarinda) – Runner-up.

Ardit awalnya diremehkan karena wajahnya yang ganteng, tapi ia membuktikan bahwa isi materinya jauh lebih menarik. Dengan delivery cerdas dan percaya diri tinggi, Ardit menjadi bintang baru stand up Indonesia. Ia sering mengangkat tema keresahan pribadi dan kehidupan sehari-hari dengan gaya observasional yang tajam dan elegan.
Gamayel (Balikpapan) – Juara 3

Seorang polisi berpangkat Aipda yang tampil dengan seragam dan persona aparat, menjadikan kehidupannya sebagai sumber komedi. Gayanya fresh dan berbeda, menjadikan Gamayel finalis unik yang sulit dilupakan. Ia membuktikan bahwa profesi serius pun bisa jadi bahan candaan yang cerdas.
Dana (Salatiga) – Peringkat 4

Komika asal dusun ini tampil dengan logat khas desa dan materi seputar kehidupan pedesaan. Kesederhanaannya justru membuat penonton merasa dekat dan terhibur. Dana sering mengangkat isu tentang kehidupan di desa, perbedaan antara kota dan kampung, serta cerita personal yang sangat relate.
Gebi (Serang) – Peringkat 5

Komika dengan pengalaman kompetisi luas ini membawakan materi yang solid dan konsisten. Meski minim gimmick, kekuatan punchline-nya membuatnya bertahan lama di kompetisi. Ia juga dikenal dengan teknik penulisan materi yang rapi dan penguasaan panggung yang baik.
Fajar Nugra (Bogor) – Peringkat 6

Dikenal dengan materi dewasa yang cukup berani, ia sempat jadi kontroversi karena gaya blue comedy-nya. Namun, kemampuan teknis Fajar tetap membuatnya diakui sebagai komika kuat. Ia tidak segan mengeksplor tema tabu dengan pendekatan cerdas dan tetap mengundang tawa.
Kamal (Bandung) – Peringkat 7
Membawa puisi dalam stand-up bukan hal biasa. Tapi Kamal menjadikan itu ciri khasnya. Suasana puitis, kharismatik, dan misterius jadi keunikan tersendiri dalam setiap set-nya. Ia sering membuat penonton berpikir sekaligus tertawa lewat permainan kata yang indah dan tajam.
Irvan Karta (Sukabumi) – Peringkat 8
Seorang dosen yang tampil dengan materi sains, Irvan membawa pendekatan logika dan edukatif di atas panggung. Lucu sambil belajar, kira-kira seperti itu gaya Irvan. Ia membuktikan bahwa dunia akademik dan komedi bisa berjalan beriringan.
Sabeq (Bone) – Peringkat 9
Mahasiswa S2 ini lolos audisi di Surabaya. Materinya mewakili keresahan anak muda Bugis perantauan. Walau tak banyak informasi tersiar, penampilannya tetap berkesan. Ia membawa warna baru dan menunjukkan bahwa anak daerah juga bisa bersaing secara nasional.
Rin Hermana (Padang) – Peringkat 10
Juara Street Comedy V ini dikenal dengan gaya observasional dan energi tinggi. Ia jadi favorit komunitas dan tampil memukau meski tak sampai final. Gaya bicaranya cepat dan ekspresif, membuat panggung selalu hidup setiap kali ia tampil.
Vyna Maryana (Pekalongan) – Peringkat 11
Satu-satunya finalis wanita. Ia membawa keresahan perempuan dalam dunia dominasi pria. Gayanya yang ceplas-ceplos dan percaya diri memberi warna baru di panggung SUCI. Ia juga menyentuh isu gender dengan berani dan lucu.
Radit Vent (Yogyakarta) – Peringkat 12
Komika yang menggabungkan ventriloquism dengan stand-up, membawa boneka “Lola” ke panggung. Inovatif dan segar, meski tak mampu bertahan lebih jauh. Ia membuktikan bahwa komedi visual dan suara bisa menyatu harmonis di atas panggung.
Zarry Hendrik (Jakarta) – Peringkat 13
Penulis muda ini dikenal dengan materi soal cinta dan keresahan anak muda. Dijuluki “ahli wanita”, Zarry memberi warna galau dan romantis dalam komedi. Ia membawa gaya puitis dan perasaan yang jarang dieksplor dalam stand-up.
Firman (Malang) – Peringkat 14
Seorang wartawan yang menyentuh isu-isu sosial dan lokal dalam materinya. Sayangnya, ia harus tersingkir lebih awal. Namun keberaniannya membahas isu masyarakat membuatnya tetap dikenang.
Beno (Pamulang) – Peringkat 15
Komika dari Tangerang Selatan yang dikenal dengan gaya santainya. Meskipun tak bertahan lama, penampilannya cukup mencuri perhatian. Ia sering membawakan materi ringan tapi tetap mengundang tawa karena gestur lucunya.
Firza Valaza (Surabaya) – Peringkat 16
Komika pertama yang tereliminasi. Membawakan materi dark comedy, namun belum diterima luas oleh penonton SUCI saat itu. Meski begitu, keberaniannya patut diapresiasi karena membawa genre yang belum umum saat itu.
SUCI 6 menunjukkan betapa kayanya Indonesia dalam hal komedi. Tak hanya dari sisi materi, tapi juga latar belakang, logat, hingga karakter tiap komika memberi warna berbeda di tiap show. Dari Medan ke Bone, dari dosen sampai polisi, semua bersatu dalam misi membuat Indonesia tertawa. Dan dari panggung SUCI-lah, banyak dari mereka kini menjadi nama besar yang dikenal luas oleh publik.
Jangan ketinggalan berita terkini dan konten menarik dari Batakita!
Dukung Kami:
Belajar jadi mudah dan praktis!
Temukan eBook berkualitas di www.platihan.id dan upgrade kemampuanmu!
Belajar Mewarnai Jadi Lebih Kreatif
Mewarnai adalah salah satu cara belajar yang paling banyak diminati oleh anak-anak
Dengan gambar-gambar lucu dan menarik, ebook ini memberikan kesempatan bagi si kecil untuk berkreasi dan mengasah keterampilan motorik halus mereka
Siapkan krayon, Ajak si kecil Mewarnai!




