Ringkasann Kilat:
• SUCI 9 diikuti 15 finalis terbaik dari seluruh Indonesia dengan sistem eliminasi mingguan.
• Rio Steven Dumatubun menjadi juara SUCI 9, mengalahkan Ali Akbar di grand final.
• SUCI 9 melahirkan komika generasi baru dengan karakter dan gaya komedi yang kuat.
Disclamer: This overview was created with AI support.
Tidak semua juara lahir sebagai yang paling kuat sejak awal. Di Stand Up Comedy Indonesia musim ke-9, perjalanan menuju gelar juara justru dipenuhi kejutan, perkembangan tak terduga, dan transformasi luar biasa dari para finalisnya. SUCI 9 membuktikan bahwa kompetisi ini bukan sekadar tentang siapa yang paling lucu di awal, tetapi siapa yang paling mampu berkembang, bertahan, dan membangun identitas komedi yang autentik di bawah tekanan panggung nasional.
Dari ribuan peserta yang mengikuti audisi, hanya 15 finalis yang berhasil melaju ke panggung utama dan bersaing setiap minggu dalam sistem eliminasi. Setiap minggu, satu per satu finalis harus tereliminasi, hingga akhirnya tersisa dua komika terbaik yang bertarung di grand final untuk memperebutkan gelar juara.
Juara 1 – Rio Steven Dumatubun

Rio Steven Dumatubun keluar sebagai juara Stand Up Comedy Indonesia musim ke-9 setelah menunjukkan perkembangan paling signifikan sepanjang kompetisi. Ia dikenal dengan persona panggung sebagai seorang satpam, yang ia jadikan identitas komedi yang unik dan sangat kuat. Pada awal kompetisi, Rio sempat tampil tidak terlalu menonjol dibanding beberapa finalis lain, namun ia menunjukkan pertumbuhan yang konsisten dari minggu ke minggu. Kekuatan utamanya terletak pada delivery yang natural, penguasaan panggung yang semakin matang, serta kemampuan membangun persona yang jelas dan autentik. Pada babak grand final, Rio berhasil mengungguli Ali Akbar dengan materi yang paling solid secara struktur, emosi, dan punchline. Kemenangannya membuktikan bahwa konsistensi, identitas yang kuat, dan kemampuan berkembang adalah kunci utama untuk menjadi juara SUCI.
Juara 2 – Ali Akbar

Ali Akbar tampil sebagai salah satu komika paling konsisten sepanjang musim SUCI 9. Ia dikenal dengan gaya komedi storytelling yang kuat, mengangkat pengalaman hidupnya sebagai pemuda dari Indonesia Timur yang merantau dan menghadapi berbagai tantangan hidup. Ali berhasil mencapai grand final berkat konsistensi, kepercayaan diri, dan kemampuan membangun koneksi emosional dengan penonton. Meskipun akhirnya berada di posisi runner-up, Ali membuktikan dirinya sebagai salah satu komika dengan fondasi komedi yang sangat kuat dan potensi karier yang panjang di industri stand-up Indonesia.
Juara 3 – Ate (Fatih Andhika)

Ate dikenal sebagai komika dengan gaya observasional yang tajam dan pendekatan yang sangat autentik. Ia sering mengangkat keresahan pribadi dan fenomena sosial dengan sudut pandang yang unik dan jujur. Sepanjang kompetisi, Ate tampil konsisten dan menunjukkan kemampuan menulis materi yang kuat. Ia berhasil mencapai babak semifinal dan mengamankan posisi ketiga. Keberhasilannya menunjukkan bahwa komika dari daerah pun mampu bersaing di level nasional dengan kualitas materi dan teknik yang solid.
Peringkat 4 – Egi Haw
Egi Haw dikenal dengan materi yang sangat personal dan autentik, banyak mengangkat latar belakang kehidupannya dan realitas sosial di sekitarnya. Ia memiliki gaya delivery yang natural dan persona yang kuat. Egi berhasil mencapai babak empat besar sebelum akhirnya tereliminasi menjelang grand final.
Peringkat 5 – Nopek Novian
Nopek merupakan salah satu komika paling unik di SUCI 9 dengan gaya komedi absurd, deadpan, dan persona yang sangat khas. Ia sempat menjadi salah satu favorit penonton karena materi dan karakter panggungnya yang berbeda dari komika lain. Namun, ia harus tereliminasi di babak lima besar setelah penampilannya dinilai kurang maksimal dibanding finalis lain.
Peringkat 6 – Gilang Herlambang
Gilang Herlambang, yang dikenal luas dengan nama panggung Gilang Durhaka, merupakan salah satu komika dengan persona paling kuat dan mudah dikenali di SUCI 9. Ia membangun identitas komedinya melalui karakter “anak durhaka”, sebuah persona yang ia gunakan untuk mengeksplorasi hubungan keluarga, konflik generasi, dan pengalaman hidupnya sendiri dengan pendekatan yang jujur namun tetap menghibur. Ia berhasil bertahan hingga enam besar, membuktikan bahwa kekuatan persona yang jelas dan konsistensi identitas dapat menjadi faktor penting dalam bertahan di kompetisi stand-up tingkat nasional.
Peringkat 7 – Ben Dhanio
Ben Dhanio dikenal sebagai komika dengan gaya komedi observasional yang sederhana namun efektif. Ia sering mengangkat pengalaman pribadi, kehidupan sehari-hari, dan fenomena sosial dengan sudut pandang yang jujur dan santai. Kekuatan utama Ben terletak pada kemampuannya membangun koneksi dengan penonton melalui persona yang natural dan tidak dibuat-buat. Keberhasilannya mencapai tujuh besar menunjukkan bahwa pendekatan komedi yang sederhana namun autentik tetap mampu bersaing di tengah berbagai gaya komedi yang lebih eksperimental.
Peringkat 8 – Gideon Victor Tulus (Tulus)
Gideon Victor Tulus, atau yang dikenal dengan nama Tulus, merupakan komika dengan pendekatan komedi yang ringan dan mudah diterima oleh berbagai kalangan. Ia sering mengangkat pengalaman hidup sehari-hari, interaksi sosial, dan dinamika kehidupan urban dengan gaya yang santai dan komunikatif. Sepanjang kompetisi, Tulus menunjukkan kemampuan adaptasi yang baik terhadap berbagai tantangan tema dan format. Ia berhasil membangun konsistensi dalam delivery serta meningkatkan kualitas penulisan materi dari waktu ke waktu. Keberhasilannya mencapai delapan besar menunjukkan potensinya sebagai komika yang mampu berkembang lebih jauh di industri stand-up comedy Indonesia.
Peringkat 9 – Rais Marasabessy
Rais Marasabessy membawa perspektif unik sebagai komika yang berasal dari Indonesia Timur. Ia sering mengangkat pengalaman hidupnya sebagai perantau, perbedaan budaya, serta tantangan beradaptasi di lingkungan baru. Gaya komedinya menggabungkan storytelling personal dengan observasi sosial yang tajam, menciptakan humor yang terasa jujur dan bermakna. Keberhasilannya mencapai sembilan besar menunjukkan bahwa perspektif yang unik dan identitas yang kuat dapat menjadi keunggulan dalam kompetisi stand-up comedy nasional.
Peringkat 10 – Levi Ofsanusi
Levi Ofsanusi dikenal dengan gaya komedi yang cerdas dan berbasis permainan kata serta observasi sosial. Ia sering mengeksplorasi berbagai fenomena kehidupan modern dengan pendekatan yang kreatif dan sudut pandang yang tidak biasa. Levi memiliki kemampuan menulis materi yang solid, dengan punchline yang terstruktur dan efektif. Keberhasilannya mencapai sepuluh besar menunjukkan bahwa kombinasi antara kecerdasan materi dan konsistensi delivery merupakan fondasi penting dalam stand-up comedy kompetitif.
Peringkat 11 – Muhammad Kadavi
Muhammad Kadavi, yang dikenal dengan nama Davi, merupakan komika dengan pendekatan komedi yang unik dan reflektif. Ia sering mengangkat pengalaman hidupnya sendiri, termasuk latar belakang daerah dan perjalanan pribadinya, dengan gaya yang jujur dan apa adanya. Sepanjang kompetisi, Davi menunjukkan potensi yang kuat dalam hal penulisan materi dan kemampuan storytelling. Keberhasilannya mencapai sebelas besar menunjukkan bahwa komika dengan identitas yang jelas dan pendekatan yang personal memiliki potensi besar untuk berkembang lebih jauh.
Peringkat 12 – Alif Rivelino
Alif Rivelino merupakan komika yang dikenal dengan teknik penulisan materi yang terstruktur dan pendekatan komedi yang matang. Ia sering mengangkat berbagai fenomena sosial dan pengalaman pribadi dengan sudut pandang yang analitis dan observasional. Keberhasilannya mencapai dua belas besar menunjukkan bahwa fondasi teknik yang kuat merupakan salah satu faktor penting dalam bertahan di kompetisi stand-up tingkat nasional.
Peringkat 13 – Alex Fabry
Alex Fabry merupakan salah satu komika dengan latar belakang paling unik di SUCI 9, sebagai peserta internasional yang tampil di kompetisi stand-up Indonesia. Ia membawa perspektif berbeda sebagai orang asing yang tinggal di Indonesia, mengangkat pengalaman budaya, perbedaan sosial, dan adaptasi dengan lingkungan baru. Kehadirannya memberikan warna tersendiri dalam kompetisi dan menunjukkan bahwa stand-up comedy merupakan medium universal yang melampaui batas geografis.
Peringkat 14 – Egik Emka
Egik Emka dikenal dengan pendekatan komedi yang eksperimental dan kreatif. Ia sering mengeksplorasi berbagai ide unik dan sudut pandang yang tidak konvensional dalam materinya. Persona panggung Egik mencerminkan karakter yang percaya diri dan berani mencoba hal baru. Meskipun tereliminasi lebih awal, Egik tetap menunjukkan fondasi yang kuat sebagai komika dengan potensi besar untuk berkembang di masa depan.
Peringkat 15 – Ichal Kate
Ichal Kate merupakan salah satu perwakilan komika dari Indonesia Timur yang membawa perspektif lokal ke panggung nasional. Ia sering mengangkat pengalaman hidupnya di daerah, perbedaan budaya, dan realitas sosial dengan pendekatan yang jujur dan autentik. Meskipun menjadi finalis pertama yang tereliminasi, keikutsertaannya di SUCI 9 menunjukkan bahwa stand-up comedy Indonesia terus berkembang dan menjangkau berbagai daerah di seluruh nusantara.
Jangan ketinggalan berita terkini dan konten menarik dari Batakita!
Dukung Kami:
Belajar jadi mudah dan praktis!
Temukan eBook berkualitas di www.platihan.id dan upgrade kemampuanmu!
Belajar Mewarnai Jadi Lebih Kreatif
Mewarnai adalah salah satu cara belajar yang paling banyak diminati oleh anak-anak
Dengan gambar-gambar lucu dan menarik, ebook ini memberikan kesempatan bagi si kecil untuk berkreasi dan mengasah keterampilan motorik halus mereka
Siapkan krayon, Ajak si kecil Mewarnai!




