Di antara semua musim Stand Up Comedy Indonesia, SUCI 8 sering disebut sebagai salah satu musim paling “keras” dan paling berwarna. Bukan hanya karena format kompetisinya yang berubah total, tetapi karena di musim inilah karakter, latar belakang, dan identitas daerah para komika benar-benar bertabrakan di satu panggung.
Stand Up Comedy Indonesia Musim 8 yang tayang di Kompas TV pada tahun 2018 menghadirkan 15 finalis hasil audisi nasional di Surabaya dan Jakarta. Untuk pertama kalinya, para finalis dibagi ke dalam tiga tim di bawah bimbingan Indro Warkop, Pandji Pragiwaksono, dan Cak Lontong, dengan tantangan mingguan Mission Impossi8le yang menuntut fleksibilitas materi dan karakter.
Format ini membuat eliminasi terasa lebih kejam, karena bukan hanya lucu yang diuji, tetapi juga kemampuan adaptasi, kedewasaan materi, dan kecerdasan membaca panggung. Dari sistem inilah akhirnya lahir para juara dan kisah perjalanan tiap finalis dari peringkat teratas hingga tersingkir lebih awal.
Juara 1 – Popon Kerok
Popon Kerok, dengan nama asli Muhammad Saleh, keluar sebagai juara Stand Up Comedy Indonesia musim ke-8 tahun 2018. Ia dikenal luas melalui persona panggung “Anak Menteng”, sebuah karakter yang ia bangun dari latar sosial kelas menengah urban Jakarta, lalu dipertajam dengan pendekatan dark comedy yang berani dan kerap menyentuh wilayah sensitif. Namun kekuatan Popon bukan semata pada keberanian materi, melainkan pada kontrol struktur dan ritme yang sangat matang. Sepanjang kompetisi, Popon tampil konsisten, jarang melakukan kesalahan teknis, dan selalu mampu menyesuaikan materi dengan format mission show.
Juara 2 – Oki Rengga Winata
Oki Rengga Winata menempati posisi runner-up SUCI 8 dengan perjalanan kompetisi yang sangat solid. Latar belakangnya sebagai mantan penjaga gawang sepak bola profesional menjadi sumber utama materi komedinya, menghadirkan perspektif unik yang jarang ditemui di panggung stand-up. Oki membangun persona sebagai sosok pekerja keras, lugas, dan apa adanya, dengan logat Sumatra Utara yang kuat namun komunikatif. Keunggulan Oki terletak pada storytelling linear dan kemampuannya menjadikan pengalaman personal sebagai humor yang mudah diterima audiens luas. Konsistensinya dari pekan ke pekan membawanya hingga grand final dan menjadikannya salah satu finalis paling stabil sepanjang musim.
Juara 3 – Bintang Bete
Bintang Bete merupakan salah satu komika paling berpengalaman di SUCI 8. Sebelum mengikuti kompetisi ini, ia telah dikenal sebagai aktor dan komedian, dan pengalaman tersebut sangat terasa di atas panggung. Gaya komedinya khas: one-liner pendek, observasional, absurd, dan imajinatif, sering kali melompat dari satu gagasan ke gagasan lain dengan cepat. Keunikan Bintang terletak pada kemampuannya menyampaikan ide liar secara singkat namun presisi. Konsistensi performa dan kematangan panggung membawanya menembus tiga besar, menjadikannya juara ketiga SUCI 8.
Peringkat 4 – Arif Brata
Arif Brata merupakan salah satu komika paling menonjol di SUCI 8 dari segi energi dan karakter. Ia dikenal luas lewat penggunaan logat Makassar yang sangat kental, yang bukan sekadar aksen, tetapi menjadi bagian integral dari punchline dan ritme materinya. Arif mengangkat banyak tema keseharian, keluarga, dan pengalamannya sebagai perantau, dibawakan dengan gestur aktif dan tempo cepat. Sepanjang kompetisi, Arif sering disebut sebagai kandidat juara, namun harus terhenti di fase akhir sebelum grand final. Meski demikian, SUCI 8 menjadi titik lonjakan besar dalam kariernya di industri hiburan.
Peringkat 5 – Fianita Andriyati Rochmah
Fianita tampil sangat kontras dibanding finalis lain. Dengan tempo bicara lambat, ekspresi datar, dan gestur minimal, ia mengusung gaya deadpan comedy yang jarang digunakan di SUCI. Materinya kuat secara identitas lokal, terutama tentang kehidupan dan budaya Ponorogo—termasuk bit ikonik tentang Reog. Keberhasilan Fianita menembus lima besar menjadikannya komika perempuan pertama dalam sejarah SUCI Kompas TV yang mencapai posisi tersebut, sebuah pencapaian penting bagi representasi perempuan di stand-up Indonesia.
Peringkat 6 – Nur Arifin (Ipin)
Ipin dikenal sebagai “kuda hitam” SUCI 8. Di awal kompetisi, ia tidak terlalu diunggulkan, namun menunjukkan perkembangan signifikan setiap pekan. Materinya banyak berangkat dari kehidupan keluarga, relasi sosial, dan pengalaman sehari-hari, disampaikan dengan gaya santai dan jujur. Kekuatan Ipin ada pada kedekatan emosional dengan audiens, membuat humornya terasa natural dan relatable. Ia bertahan hingga babak akhir meski tidak mencapai grand final.
Peringkat 7 – Rizky Teguh (Riztegh)
Riztegh menjalani perjalanan kompetisi yang progresif. Penampilannya di awal sempat tidak stabil, namun ia berhasil memperbaiki struktur materi dan delivery seiring berjalannya waktu. Dengan logat Medan yang khas, Riztegh banyak mengangkat cerita keluarga dan pengalaman personal. Konsistensinya di fase menengah membawanya cukup jauh sebelum akhirnya tereliminasi.
Peringkat 8 – Joshua M. Bertus (Jobe)
Jobe menjadi representasi Indonesia Timur di SUCI 8. Materinya banyak dipengaruhi latar budaya Manado, keluarga, dan pengalamannya sebagai perantau. Logat Manado yang ia gunakan memberi warna tersendiri di atas panggung. Ia tampil cukup konsisten hingga fase menengah kompetisi sebelum akhirnya tersingkir.
Peringkat 9 – Fedro Dwi Putra
Fedro membawa humor observasional dengan sentuhan lokal Palembang. Ia sering mengangkat pengalaman pribadi dan isu keseharian dengan gaya santai dan jenaka. Fedro mampu bertahan hingga pertengahan kompetisi sebelum tereliminasi menjelang fase krusial.
Peringkat 10 – Yudha Ilham
Yudha merupakan alumni SUCI 5 yang kembali dengan peningkatan signifikan. Materinya berfokus pada kehidupan urban Jakarta, dibawakan dengan energi tinggi dan tempo cepat. Meski tidak melaju jauh, keikutsertaannya di SUCI 8 menunjukkan perkembangan komedi yang matang.
Peringkat 11 – Michael Wahyu Nugroho (Wahyu Togog)
Wahyu Togog dikenal sangat ekspresif dan aktif di atas panggung. Ia sering memanfaatkan gestur tubuh dan mimik wajah sebagai bagian dari komedi. Sayangnya, format kompetisi tim membuatnya tersingkir lebih awal meski memiliki jam terbang tinggi.
Peringkat 12 – Bakriyadi Muhammad Arifin
Bakriyadi merupakan komika observasional dengan logat Minang yang kuat. Ia tergolong berpengalaman, sehingga eliminasi awalnya menjadi salah satu kejutan di SUCI 8. Materinya orisinal, namun tidak cukup menyelamatkannya dari sistem gugur tim.
Peringkat 13 – Radhiq Ken Nuansa (Ken)
Ken dikenal dengan materi kreatif dan punchline segar. Bahasa sehari-hari berlogat Jawa Timuran membuat penampilannya mudah diingat. Namun langkahnya terhenti sebelum fase akhir kompetisi.
Peringkat 14 – Agung Widodo (Agungprov)
Agungprov menggunakan nama panggung yang unik dan kerap mengangkat tema sosial dengan pendekatan satir. Penampilannya menghibur, namun belum cukup kuat untuk bertahan hingga babak besar.
Peringkat 15 – Haris Teguh Kurniawati (Bu Haris)
Bu Haris tampil dengan persona guru/ibu-ibu sekolah, mengangkat humor situasional seperti LKS dan kehidupan sekolah. Ia menjadi salah satu dari dua finalis perempuan di SUCI 8, namun tereliminasi pada fase awal kompetisi tim.
Pada akhirnya, SUCI 8 bukan hanya dikenang karena siapa yang keluar sebagai juara, tetapi karena kualitas proses dan keragaman karakter yang ditampilkan. SUCI 8 menjadi pengingat bahwa di atas panggung komedi, yang bertahan bukan hanya yang paling lucu, tetapi yang paling siap menghadapi tekanan, konsisten dengan identitasnya, dan mampu berkembang dari minggu ke minggu.
