Ringkasann Kilat:
• SUCI X menghadirkan 13 finalis terbaik dari seluruh Indonesia dalam musim perayaan 10 tahun Stand Up Comedy Indonesia dengan persaingan paling ketat.
• Yono Bakrie (Samarinda) keluar sebagai juara, mengalahkan Gautama Shindu dan Christian Giacobbe lewat konsistensi teknik dan karakter absurd yang matang.
• Musim ini menampilkan komika dengan gaya sangat beragam — dari absurd, storytelling personal, satir sosial, hingga observasional — membuktikan bahwa identitas kuat lebih penting daripada sekadar lucu.
Disclamer: This overview was created with AI support.
Sepuluh tahun SUCI bukan sekadar perayaan, tapi pembuktian bahwa panggung ini sudah melahirkan generasi komika dengan karakter yang semakin berani dan matang. Di SUCI X, tekanan terasa lebih besar, ekspektasi penonton lebih tinggi, dan setiap minggu menjadi pertaruhan besar. Dari 13 finalis dengan warna komedi yang benar-benar berbeda, hanya satu yang mampu menjaga konsistensi hingga akhir dan berdiri sebagai juara.
Stand Up Comedy Indonesia Season 10 atau SUCI X yang tayang di Kompas TV pada 2022 menghadirkan 13 finalis terbaik dari berbagai daerah di Indonesia. Musim ini menjadi momen spesial satu dekade SUCI, sehingga kualitas persaingan terasa jauh lebih ketat. Setiap peserta datang dengan identitas yang jelas—ada yang absurd, ada yang storytelling emosional, ada yang satir sosial, ada pula yang observasional keseharian. Eliminasi berlangsung tanpa kompromi, dan hanya mereka yang paling konsisten serta berkembang yang mampu bertahan hingga akhir.
Yono Bakrie – Juara 1 (Samarinda, Kalimantan Timur)
Yono Bakrie tampil sebagai komika dengan gaya absurd yang rapi dan sangat terkontrol. Ia tidak bermain di wilayah komedi yang aman, namun selalu memastikan setiap premisnya punya arah yang jelas. Delivery-nya tenang, hampir datar, tapi justru di situlah kekuatannya. Punchline datang tanpa perlu teriak atau gimmick berlebihan. Dari awal kompetisi, Yono sudah terlihat punya struktur materi yang matang, dan grafiknya terus naik hingga grand final. Ia mampu mengolah tema apapun menjadi khas “Yono”—absurd tapi logis, unik tapi tetap relatable. Di malam penentuan, ia tampil penuh percaya diri dan membuktikan bahwa konsistensi teknik dan kejelasan karakter adalah kombinasi paling berbahaya di panggung SUCI.
Gautama Shindu – Runner-up (Jepara, Jawa Tengah)
Gautama Shindu dikenal lewat persona “bapak-bapak receh” dengan permainan kata dan tebak-tebakan yang khas. Banyak yang awalnya mengira gaya seperti itu tidak akan bertahan lama, tetapi Shindu membalikkan ekspektasi. Ia terus memoles materinya hingga semakin padat dan efektif. Setiap kritik juri ia jadikan bahan bakar untuk memperkuat struktur dan timing. Ia tidak mencoba menjadi komika lain—ia justru mempertegas identitasnya sendiri. Semakin mendekati final, materi Shindu semakin percaya diri dan terkontrol. Perjalanannya ke grand final menunjukkan bahwa karakter yang konsisten dan percaya diri bisa membawa komika sangat jauh.
Christian Giacobbe – Juara 3 (Italia / Bali)
Christian Giacobbe atau Chris membawa perspektif yang benar-benar berbeda sebagai komika asal Italia yang tinggal di Bali. Ia memanfaatkan sudut pandang “orang luar melihat Indonesia” dengan observasi yang cerdas dan segar. Culture shock, kebiasaan masyarakat, hingga detail kecil kehidupan sehari-hari diolah menjadi punchline yang tajam. Ia tidak mengandalkan aksen semata, tetapi membangun komedi berbasis pengalaman dan pengamatan yang kuat. Delivery-nya tenang dan penuh kontrol, dengan struktur materi yang sangat rapi. Masuk tiga besar bukan karena faktor unik saja, melainkan karena konsistensi kualitasnya sepanjang kompetisi.
Muhammad Dwi Kurniawan (Dwik) – Peringkat 4 (Cikarang, Jawa Barat)
Dwik tampil dengan komedi yang sangat membumi dan relatable. Ia sering mengangkat latar belakang keluarga serta kehidupan sederhana dengan pendekatan yang jujur dan apa adanya. Detail kecil yang ia ceritakan terasa dekat dengan pengalaman banyak orang. Tidak banyak gimmick, tapi struktur materinya kuat dan punchline-nya efektif. Dari minggu ke minggu, Dwik menunjukkan perkembangan signifikan dalam timing dan kepercayaan diri. Ia membuktikan bahwa komedi keseharian yang ditulis dengan detail dan kejujuran tetap sangat kuat di panggung nasional.
Gerall Saprilla – Peringkat 5 (Belinyu, Bangka / Sukabumi)
Gerall dikenal sebagai komika dengan gaya absurd dan eksperimental yang berani. Ia sering memainkan karakter, perubahan ekspresi, bahkan gimmick yang tidak terduga. Kadang penonton dibuat bertanya arah bit-nya, namun punchline datang dari sudut yang mengejutkan. Kreativitasnya tinggi dan ia tidak takut mengambil risiko di setiap penampilan. Gerall menunjukkan bahwa keberanian bereksperimen bisa menjadi identitas kuat, asalkan tetap terkontrol dan terstruktur.
Annie Yang – Peringkat 6 (Bali)
Annie tampil percaya diri dengan gaya yang modern dan bold. Ia kerap menggunakan bahasa Inggris dalam materinya dan mengangkat perspektif perempuan urban dengan sudut pandang yang tajam. Materinya sering bermain di wilayah relasi sosial dan pengalaman pribadi yang dikemas cerdas. Delivery-nya tegas, terstruktur, dan penuh kontrol. Annie memberi warna berbeda di SUCI X dan menunjukkan bahwa komika perempuan bisa tampil kuat dengan karakter yang jelas.
Budi Hardian – Peringkat 7 (Samarinda, Kalimantan Timur)
Budi tampil sebagai komika tuna netra yang tidak pernah menjadikan kondisinya sebagai alat simpati. Ia justru mengolah pengalamannya menjadi materi yang hangat dan cerdas. Opening-nya sering mengejutkan, lalu ditutup dengan punchline yang membuat penonton tertawa sekaligus tersentuh. Delivery-nya natural dan penuh percaya diri. Kehadirannya di SUCI X menjadi bukti bahwa komedi adalah soal sudut pandang, bukan keterbatasan.
Aldhy – Peringkat 8 (Makassar, Sulawesi Selatan)
Aldhy membawa keresahan dunia kreatif dan pengalaman kerja industri hiburan ke atas panggung. Materinya terasa segar karena jarang disentuh komika lain. Ia tampil dengan energi tinggi, ritme cepat, dan delivery yang penuh ekspresi. Aldhy mampu menjaga tempo penampilan dengan baik dan menunjukkan potensi besar sebagai komika dengan sudut pandang spesifik dan relevan.
Ilham – Peringkat 9 (Jakarta)
Ilham dikenal dengan persona yang emosional dan storytelling yang mengalir. Ia sering mengangkat cerita personal dengan pendekatan jujur dan reflektif. Act-out dan ekspresi menjadi kekuatan tambahan dalam penampilannya. Materinya terasa autentik dan membangun koneksi kuat dengan penonton. Ia menunjukkan perkembangan stabil sebelum akhirnya tereliminasi.
Jerry – Peringkat 10 (Kupang, Nusa Tenggara Timur)
Jerry membawa perspektif Indonesia Timur dengan gaya santai dan komunikatif. Ia mengangkat pengalaman merantau dan perbedaan budaya dengan cara yang ringan namun mengena. Delivery-nya natural dan tidak dibuat-buat. Kehadirannya menambah keberagaman warna komedi di SUCI X
Bonar – Peringkat 11 (Pekanbaru, Riau)
Bonar dikenal dengan storytelling yang tajam dan struktur materi yang rapi. Ia piawai mengolah pengalaman pribadi dan identitasnya menjadi komedi yang terkontrol secara teknis. Meski perjalanannya tidak panjang, kualitas penulisannya terlihat matang dan menjanjikan.
Kukuh – Peringkat 12 (Bogor, Jawa Barat)
Kukuh tampil dengan gaya satir dan observasi sosial yang halus namun tajam. Ia sering menyelipkan kritik dalam balutan humor elegan. Struktur materinya terjaga dan delivery-nya tenang. Kukuh menunjukkan fondasi penulisan komedi yang kuat meski langkahnya tidak panjang.
Irfan El Siami – Peringkat 13 (Banjarmasin, Kalimantan Selatan)
Irfan menjadi finalis pertama yang tereliminasi, namun tetap meninggalkan kesan lewat materi personal yang berani dan reflektif. Ia mengangkat pengalaman hidup yang tidak ringan dengan pendekatan komedi yang berbeda. Meski perjalanannya singkat, karakternya kuat dan menunjukkan potensi berkembang lebih jauh.
SUCI X membuktikan bahwa tidak ada satu formula pasti untuk menjadi juara. Ada yang absurd, ada yang storytelling, ada yang satir, ada yang observasional. Yang membedakan hanyalah konsistensi, kedewasaan teknik, dan keberanian menjaga identitas. Di musim satu dekade ini, SUCI kembali menunjukkan bahwa panggung komedi Indonesia semakin beragam, semakin matang, dan semakin siap melahirkan bintang-bintang baru.
Jangan ketinggalan berita terkini dan konten menarik dari Batakita!
Dukung Kami:
Belajar jadi mudah dan praktis!
Temukan eBook berkualitas di www.platihan.id dan upgrade kemampuanmu!
Belajar Mewarnai Jadi Lebih Kreatif
Mewarnai adalah salah satu cara belajar yang paling banyak diminati oleh anak-anak
Dengan gambar-gambar lucu dan menarik, ebook ini memberikan kesempatan bagi si kecil untuk berkreasi dan mengasah keterampilan motorik halus mereka
Siapkan krayon, Ajak si kecil Mewarnai!




